Kuis Berhadiah Menurut Pandangan Islam

undian menurut islamKuis Berhadiah Menurut Pandangan Islam. Seiring dengan berkembangnya zaman, berbagai jenis mu’amalah mengalami pembaharuan. Semakin banyak macam dan ragamnya.

Salah satunya adalah adanya “undian berhadiah”. Undian yang ditawarkan pun beragam macamnya.

Seakan-akan besi yang tertarik magnet, banyak konsumen yang tergiur oleh hadiah yang ditawarkan oleh pihak produsen. Dengan tamaknya, mereka lantas membeli dalam jumlah banyak barang-barang yang ditawarkan, demi mendapatkan hadiah. Padahal banyak di antara mereka yang sebenarnya tidak butuh dengan barang itu.

Akhirnya, terjerumuslah mereka dalam perbuatan membuang-buang harta yang diharamkan oleh Alloh Karena itu, pada edisi kali ini penulis hendak mengetengahkan kepada para pembaca sekalian mengenai pembahasan jenis-jenis undian dalam syari’at Islam, dengan harapan supaya muamalah yang kita lakukan mendapat ridho Alloh SWT dan jauh dari murka-Nya.

Di samping itu, penulis juga akan menyinggung tentang hadiah undian dari sebuah perlombaan atau kuis yang akhir-akhir ini marak diadakan oleh berbagai media informasi. Hanya kepada Alloh SWT kami memohon taufiq.

Definisi Undian

Secara istilah adalah: “Undian yang dilakukan untuk orang-orang yang sama-sama berhak dalam suatu perkara tanpa diketahui manakah yang lebih berhak mendapatkannya.” Sedangkan undian ini nantinya bisa jadi masuk dalam masalah judi.

Syaikh Ibnul Utsaimin mengatakan: “Bahwa jika sampai undian akhirnya keluar semisal judi, maka ia akan menjadi haram.” Lantas beliau mendatangkan misal: “Seperti dua orang yang memiliki ladang dan dibagi masing-masingnya dua pertiga dan sepertiga. Lantas dua orang pemilik tadi mengundi siapakah yang berhak mendapat bagian dua pertiga dan siapakah yang mendapat bagian setengah, maka ini adalah semisal judi sebab ada kemungkin untung dan rugi dari kedua belah pihak.”

Hukum Asai Undian Dalam Islam

Pada asalnya undian dalam syariat Islam adalah boleh karena di dalam Al Qur’an Alloh SWT telah menyebutkan kisah Nabi Yunus ketika harus mengundi siapakah di antara penumpang kapal yang berhak dilemparkan ke dalam laut untuk mengurangi beban kapal itu. Maka para penumpang mengadakan undian.

Firman Alloh : “Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.” (QS. Ash-Shoffat [37]: 141) Atau dalam firman-Nya yang lain ketika mengisahkan siapakah yang berhak untuk mengasuh Maryam, maka orang-orang mengadakan undian untuk menentukan siapakah yang berhak mengasuh Maryam dengan melemparkan anak panah mereka manakah yang mengenai Maryam.

Dalam hadits yang shohih disebutkan bahwa ketika Rosululloh Saw hendak melakukan perjalanan dalam peperangan atau yang lainnya, maka beliau mengundi para istrinya siapakah di antara mereka yang berhak untuk ikut. Dari dalil-dalil di atas dapat kita simpulkan bahwa hukum asai undian adalah boleh jika yang diundi mempunyai hak yang sama.

Perbedaan Antara Undian yang Boleh dan Judi yang Dilarang

Sebenarnya undian dan judi dua-duanya adalah sebuah spekulasi. Hanya, dalam masalah undian yang dibolehkan dalam syariat tidak ada unsur kezaliman dan hal yang merugikan bagi yang tidak mendapatkannya. Berbeda halnya dengan judi, ia mengandung kezaliman yaitu orang yang ikut serta bisa jadi untung karena menang, atau rugi lantaran kalah karena ia telah mengeluarkan harta dalam undian yang ia ikuti.

Sedangkan dalam undian yang dibolehkan Islam, orang yang kalah tidak akan mendapat rugi. Lebih lanjut, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Maka setiap perlombaan yang dikenakan biaya dari kedua belah pihak yang berlomba, itu termasuk dalam judi semisal permainan dadu, catur serta kecepatan dalam menjawab atau ketangkasan (kuis).

Jadi, asal pengharaman judi adalah karena di dalamnya terdapat unsur ghoror yang dilarang dalam aturan mu’amalah islamiyyah. Singkat kata, dalam judi seseorang akan terjerumus dalam spekulasi yang bersifat merugikan sedangkan dalam qur’ah yang pernah dilakukan oleh Nabi sg tidak, sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Ibnul Utsaimin  dalam Manzhumah Ushul Fiqh: 317-318.

Beberapa Macam Hukum Hadiah Dalam Undian Atau Lomba

Hukum undian sangat erat kaitannya dengan hadiah yang diberikan kepada peserta. Sebab itu, kami akan menyebutkan macam-macam hadiah dalam undian beserta hukumnya masing-masing misal (contoh)nya:

1. Hadiah undian yang diberikan kepada peserta atau pembeli dengan syarat harus membeli terlebih dahulu barang dagangan dari produsen yang menawarkan barang itu untuk mendapatkan kupon. Tentang ini ulama berbeda pendapat.

Yang pertama membolehkan dengan syarat bahwa harga tetap, tidak mengalami kenaikan karena ada promosi hadiah. Yang kedua, hendaknya pembeli membeli barang tersebut karena didasari kebutuhan, tidak semata-mata hanya karena mengharap mendapatkan hadiah.

Adapun ulama yang melarang undian semacam ini berargumen karena niat pembeli tidak dapat diketahui dan promosi semisal ini dapat membahayakan produsen lain. Namun, yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu boleh jika diperhatikan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas. Wallohu A’lam.

2. Hadiah undian dalam suatu perlombaan yang bermanfaat, semisal lomba balap sepeda, bela diri, atau gulat dengan terlebih dahulu membayar uang pendaftaran kepada panitia. Hal ini juga termasuk hal yang dilarang karena Rosululloh bersabda: “Tidak ada hadiah undian untuk perlombaan kecuali dalam tiga hal; pacuan unta, panahan, dan berkuda.”

Ulama mengatakan tidak apa-apa jika dalam tiga perlombaan di atas peserta dipungut biaya, karena perlombaan dalam hadits tadi termasuk sarana jihad di jalan Alloh Dan uang yang diinfaqkan di dalamnya diibaratkan untuk fi sabilillah. Adapun perlombaan lainnya yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syari’at, pendapat yang paling kuat adalah tidak boleh memungut biaya dari peserta sebagai biaya hadiah.

3. Hadiah undian perlombaan (yang tidak dilarang oleh syari’at) yang diberikan kepada pembeli atau peserta oleh pihak ketiga. Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Di antara mereka mengatakan bahwa semacam ini tidak dibolehkan karena tercakup oleh keumuman larangan Rosululloh dalam hadits di atas, sebab Nabi tidak menjelaskan bahwa yang terlarang hanya biaya yang dipungut dari peserta.

Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa jenis ini adalah boleh karena kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan. Adapun pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama menurut alasan di atas ditambah lagi jika hal ini dibiasakan maka bisa jadi ia akan dibuat semisal pekerjaan tetap bagi sebagian kalangan, yang mana itu akan membuang waktunya dan menyibukkan dirinya dari hal lain yang lebih bermanfaat.

4.  Hadiah undian yang diberikan oleh salah satu dari peserta kepada penantang lain jika berhasil mengalahkannya, maka hal ini lebih layak untuk tidak diperbolehkan dari misal ketiga.

Beberapa Masalah

1.  Hukum SMS berhadiah. Banyak kita saksikan di dalam media elektronik hampir tidak pernah luput dari yang namanya kuis SMS berhadiah dengan cara mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya yang dengannya si pengirim akan memperoleh kesempatan menang lebih besar. Dan tarif SMS ini lebih mahal daripada harga biasa. Hukum dalam masalah ini adalah haram karena ini jelas-jelas masuk dalam pembahasan judi di atas.

2.   Hukum hadiah undian lomba cerdas cermat dalam masalah agama atau hal-hal yang bermanfaat. Hal ini telah diperselisihkan oleh ulama, sebagian mereka melarang dengan mutlak menerima hadiah dari lomba di atas karena berlandaskan keumuman sabda Nabi Saw yang membatasi adanya hadiah dalam tiga perlombaan.

Akan tetapi, sebagian yang lain berpendapat bahwa menerima hadiah dari lomba cerdas cermat atau yang bisa membantu penyebaran agama Islam adalah sama hukumnya dengan perlombaan yang ada di atas. Mereka mengatakan: “Sebagaimana agama tegak dengan pedang dan senjata, ia juga bisa tegak dengan menggunakan dalil dan penjelasan.” Dan inilah pendapat yang lebih kuat, insya Alloh.

3.  Hukum hadiah perlombaan tembak-menembak. Pendapat yang lebih kuat adalah dibolehkan untuk menerima hadiah dari perlombaan tembak-menembak walaupun dengan membayar biaya pendaftaran karena hukumnya diikutkan kepada hukum panahan, karena sekarang senjata yang digunakan bukan panah melainkan senapan dan roket.

Penutup

Saudara yang dirohmati oleh Alloh mengakhiri tulisan ini perhatikanlah sabda Nabi yang mengingatkan kita bahwa setiap manusia pasti akan mendapatkan rezekinya secara penuh sebelum ia diwafatkan, dan bagaimana pun ia akan mengejar rezeki jika Alloh belum menghendaki maka ia tidak akan bisa mendapatkannya

undian berhadiahKata beliau: “Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan ke dalam hatiku bahwa tidaklah ada jiwa meninggal dunia sehingga sempurna umur dan rezekinya, maka bertakwalah kepada Alloh dan perbaikilah dalam cara mencari rezeki.

Jangan lantaran tambatnya rezeki lantas kalian mencarinya dengan bermaksiat kepada Alloh SWT, sebab apa saja yang ada di sisi Alloh tidak akan bisa didapat kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” Semoga bermanfaat.

Abu Usamah al-Kadiriy Ponpes. al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik

Comments are closed.