Indah Dan Nikmatnya Ibadah Yang Di Rasakan

nikmat ibadahIndah Dan Nikmatnya Ibadah Yang Di Rasakan.  “ Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu Yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS Al An’am [6]: 153).

Salah satu yang amat penting kita pahami adalah bahwa tugas kita dalam hidup ini sebenarnya hanya satu, yakni ibadah kepada Allah  SWT. Meskipun ibadah telah ditunaikan, baik yang bersifat khusus seperti shalat, puasa, haji dan sejenisnya maupun yang bersifat umum seperti melakukan kebaikan yang lain, hidup tetap saja banyak orang yang tidak merasakan kenikmatan beribadah itu sehingga pelaksaannya hanya sekadar menggugurkan kewajiban yang akibatnya tidak memberi pengaruh positif sehingga ibadah dilaksanakan namun kemaksiatan juga dilakukan.

Sahabat Nabi yang kemudian menjadi Khalifah ketiga Abu Bakar dan Umar, yakni Usman bin Affan seperti yang dikutip oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad mengemukakan: Aku menemukan kenikmatan beribadah dalam empat hal yaitu:

  • Ketika mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah
  •  Ketika mampu menjauhi segala sesuatu yang diharamkan Allah
  • Ketika mampu melakukan amar makruf dan mencari pahala dari Allah
  • Ketika mampu melakukan nahi munkar dan menjaga diri dari murka Allah

Dari ungkapan Khalifah Usman bin Affan di atas, ada empat hal yang harus kita laksanakan dalam hidup ini bila kita ingin merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah  SWT.

Pertama, Menunaikan Kewajiban.

Sebagai apapun kita, ada kewajiban yang harus kita tunaikan sebagai konsekuensinya, demikian pula ketika kita beriman kepada Allah  SWT, ada sejumlah kewajiban yang harus kita tunaikan dalam hidup ini. Shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat dan haji merupakan kewajiban yang bila kita laksanakan akan membuat kita bisa merasakan nikmatnya mengabdi kepada Allah  SWT.

Ketika ayat yang mewajibkan kepada para wanita untuk menggunakan jilbab atau pakaian yang menutup aurat, maka sahabat- sahabat wanita yang sedang berada di luar rumah langsung mencari kain meskipun kain yang didapat tidak bisa menutup seluruh tubuh mereka sehingga saat bagian bawah ditutup bagian atas terlihat dan ketika bagian atas yang ditutup justeru bagian bawah yang terlihat.

Dapat menunaikan kewajiban merupakan kenikmatan tersendiri dalam pengabdian kepada Allah  SWT. Kerangka terpenting yang harus kita pahami dalam konteks melaksanakan kewajiban sebagai konsekuensi dari pengakuan kita kepada Allah  SWT sebagai Tuhan adalah mengikuti jalan hidup yang telah digariskanNya dan kita tidak terpengaruh oleh jalan hidup lain meskipun hal itu menyenangkan secara duniawi.

Hal ini membuat kita bisa merasakan kenikmatan dalam pengabdian kepada Allah  SWT karena inilah yang akan mengantarkan kita kepada derajat taqwa yang sebenar- benarnya, Allah  SWT berfirman: “ Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu Yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS Al An’am [6]: 153).

Kedua Menjauhi Segala Hal Yang Haram.

Halal dan haram merupakan ketentuan Allah  SWT bagi hamba-hamba-Nya dalam kehidupan di dunia ini. Sebagai muslim yang ingin merasakan kenikmatan beribadah, kita tentu rela dengan ketentuan hukum dari Allah  SWT. Karena itu, menjauhi yang diharamkan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita.

Nabi Yusuf as yang menolak ajakan wanita yang cantik untuk berzina kepadanya meskipun ia juga ada perasaan tertarik pada wanita itu, ini merupakan contoh betapa bahagia dan menyenangkan bisa meninggalkan yang diharamkan. Ketika minuman keras divonis haram oleh Allah  SWT yang harus dijauhi oleh para sahabat, maka dengan penuh semangat dan kegembiraan para sahabat Nabi memenuhi harapan Allah  SWT untuk menjauhinya.

Mereka bukan hanya tidak meminumnya lagi, tapi langsung membuang minuman keras yang masih tersisa di rumah mereka masing-masing ke jalan-jalan di kota Madinah sehingga jalan-jalan itu menjadi becek bagaikan hujan baru saja turun dari langit. Ini merupakan wujud ketaatan seorang mukmin terhadap ketentuan atau hukum Allah  SWT yang membuatnya bisa merasakan kenikmatan beribadah.

Bahkan menjadi kunci keberuntungan sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS An Nur [24]:51).

Faktor Ketiga, Melaksanakan Amar Makruf Dan Mencari Pahala.

Ketika kenikmatan beribadah sudah bisa kita rasakan, maka kitapun menginginkan agar orang lain melaksanakan pengabdian kepada Allah  SWT dan merasakan kenikmatannya. Oleh karena itu setiap kita diharuskan untuk melaksanakan amar makruf, yakni mengajak dan memerintahkan orang lain untuk melaksanakan kebaikan.

Makruf Yang secara harfiyah artinya dikenal diterjemahkan dengan kebaikan karena sebenarnya setiap orang sudah mengenal atau mengetahui tentang kebaikan itu, namun orang yang sudah tahu tentang kebaikan ternyata belum tentu melaksanakan kebaikan itu, karenanya mereka masih harus diperintah (amar).

Manakala kita melaksanakan amar makruf apalagi orang yang kita perintahkan untuk melaksanakan kebaikan betul-betul melaksanakannya, maka kitapun akan memperoleh pahala dari pahala amal yang mereka lakukan, Rasulullah  Saw bersabda: ” Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya “ (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).

Keempat Adalah Melaksanakan Nahi Munkar Dan Menjaga Diri Dari Murka Allah.

Kenikmatan dalam pengabdian kepada Allah  SWT kadangkala terganggu oleh sikap dan prilaku munkar yang dilakukan orang lain, karena itu kemunkaran tidak boleh terus berlangsung sehingga harus ada upaya untuk mencegahnya.

Munkar adalah sesuatu yang tidak disukai atau diingkari oleh manusia sehingga pada dasarnya manusia sudah tidak suka terhadap apa yang disebut dengan kemunkaran, namun karena manusia didominasi oleh hawa nafsu, apa yang sebenarnya tidak disukainya justeru malah dilakukannya.

Orang yang mencuri harta orang lain tentu tidak suka bila pencurian itu menimpa dirinya, laki- laki yang memperkosa seorang wanita tentu tidak suka bila saudara perempuan apalagi isterinya yang diperkosa, begitulah seterusnya.

Oleh karena itu, nahi munkar atau mencegah manusia dari melakukan hal-hal yang tidak benar menjadi sesuatu yang amat penting sehingga hal ini harus tetap dilakukan meskipun hanya dengan hati, yakni dengan berdo’a atau membenci kemunkaran itu, Rasulullah  Saw bersabda: “Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah ia mencegah dengan tangan (kekuasaan) nya, bila tidak mampu, hendaklah ia mencegah dengan lisannya dan bila tidak mampu juga hendaklah ia mencegah dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”( HR. Muslim).

Manakala hal ini sudah kita laksanakan, maka kitapun bias menjaga diri dari murka atau laknat Allah  SWT karena membiarkan kemunkaran apalagi bila hal itu terjadi pada diri kita amat mudah mendatangkan murka dari Allah  SWT.

Allah  SWT berfirman: “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam, yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” (QS Al Maidah [5]:78- 79).

nikmatnya beribadahApa yang dikemukakan oleh Khalifah Usman bin Affan di atas merupakan sesuatu yang bisa dilakukan oleh setiap muslim ketika mereka memang menginginkan kenikmatan dalam pengabdian kepada Allah  SWT. Hal ini karena setiap muslim punya kesempatan yang sama untuk menjadi baik atau buruk. Semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien ya rabbal alamien.

Oleh M. Said, LC  Jl. Arwana IV B2, No. 19, Pondok Permai, Tangerang

Comments are closed.